Potensi Pasar Jepang

I. Gambaran Umum Perekonomian Jepang


Selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Jepang cukup menggembirakan dan mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dunia, namun akibat krisis ekonomi global yang melanda sebagian besar negara maju termasuk Amerika Serikat sejak awal tahun 2000 telah berpengaruh pula terhadap pertumbuhan ekonomi Jepang.

Mengenali Potensi Pasar di Negeri Sakura
Dari data Japan Custom tercatat impor Jepang dari dunia mengalami penurunan dari US$ 379.544,09 juta pada tahun 2000 menjadi US$ 349.234,87 juta pada tahun 2001 dan menjadi US$ 337.567,96 juta pada tahun 2002. Hal ini tentu akan berdampak terhadap impor Jepang dari Indonesia.

Menghadapi kelesuan ekonomi Jepang dalam beberapa tahun terakhir ini, Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi, pada pidato kenegaraannya di depan anggota Dewan (Lower House) pada tanggal 31 Januari 2003, berjanji akan segera mereformasi bidang ekonomi. Beberapa kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah Jepang pada awal tahun 2003 antara lain sebagai berikut :

  1. Mereformasi bidang moneter seperti fiskal, perpajakan, sistem keuangan dan perbankan.
  2. Menarik investor dari luar negeri untuk menanamkan modalnya di Jepang sebesar 13 trilyun yen s/d tahun 2008 guna membantu menciptakan lapangan kerja yang lebih luas di Jepang. Bagi Indonesia dan khususnya para pengusaha eksportir Indonesia, Jepang dengan jumlah penduduk sebesar 126,93 juta jiwa dan dengan pendapatan perkapita sebesar US$ 37.434,67 tetap merupakan pasar utama bagi produk-produk Indonesia baik migas maupun non-migas. Dengan kata lain, kendatipun pertumbuhan ekonomi Jepang yang diproyeksikan tumbuh hanya sekitar 0% s/d 1% pada tahun 2003/2004, pengusaha eksportir Indonesia harus mampu memanfaatkan pasar Jepang sebagai negara tujuan ekspor utama.

II. Hubungan Perdagangan Jepang - Indonesia


Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia disamping Amerika Serikat. Impor Jepang (migas dan non-migas) dari Indonesia sejak tahun 2000 menurun, namun pangsa pasar komoditi non migas Indonesia terus meningkat sejak tahun 1998 sampai dengan saat ini.

III. Produk-produk Indonesia yang potensial di Jepang


Pada dasarnya, semua produk Indonesia dapat diekspor ke pasar Jepang selama produk tersebut sesuai dengan spesifikasi yang diperlukan dan memiliki daya saing yang tinggi. Adapun produk Indonesia yang telah menembus pasar Jepang pada tahun 2002 tercatat sebanyak 110 item (HS 2 digits) dan dari sejumlah produk tersebut, yang dominan adalah : plywood, tembaga, kertas dan produk kertas, karet alam, ikan termasuk udang, nikel, kopi, benang sintetik, furniture, dan lain-lain.

IV. Hambatan dalam memsuki pasar Jepang


Jepang merupakan satu diantara Negara maju dengan nilai impor dunia selama 5 tahun terakhir ini rata-rata US$ 331,944.12 juta/tahun, namun untuk memasuki pasar Jepang relative tidak sama karakteristiknya dibandingkan ekspor ke nagara maju atau negara berkembang lainnya. Jepang dengan karakteristik pasarnya yang khas, sering dirasakan sebagai hambatan bagi pengusaha eksportir Indonesia dalam memasuki pasar Jepang. Hambatan dimaksud terutama banyak dihadapi oleh produsen eksportir Indonesia dari kelompok Usaha Kecil dan Menengah.

Beberapa hambatan dalam memasuki pasar Jepang adalah sebagai berikut :

A. Hambatan Tarif :


Tarif impor Jepang untuk sebagian komoditi impor memang relatif rendah, yaitu rata-rata 3,6%. Penentuan tarif di Jepang didasarkan pada Custom Tariff Schedule dengan HS 9 digit, namun untuk barang-barang selain bahan baku, Jepang menganut sistem tarif eskalasi.

B. Hambatan Non-Tarif :


Sebagai salah satu sarana untuk mengawasi mutu barang, pemerintah Jepang memberlakukan serangkaian paraturan yang mengacu pada kepentingan nasional. Untuk itu barang yang diekspor ke Jepang harus mengikuti serangkaian peraturan, antara lain :

  • The Plant Protection Law yang mengatur sistem karantina buah-buahan, sayur-sayuran, dan tanaman yang dilarang di Jepang.
  • The Consumer Product Safety Law yang mengatur prosedur untuk mengimpor dan menjual barang konsumsi di Jepang.
  • Measurement Law yang mengatur sistem pengemasan produk dengan label keterangan isi, nama dan alamat importir
  • Quarantine Law yang mengatur sistem karantina barang impor
  • Law for Promotion of Sorted and Recycling Containers and Packaging yang mengatur sistem kemasan daur ulang
  • Industrial Standardization Law yang mengatur sistem standar kualitas produk industri Serangkaian peraturan ini dapat dirasakan sebagai hal yang memberatkan bagi pengusaha Indonesia khususnya pengusaha kecil dan menengah (Untuk mengetahui sejumlah peraturan mengenai impor di Jepang dapat menghubungi KBRI-Tokyo, BPEN, Depperindag atau Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, alamat lihat lampiran).


Disamping hal diatas, para pengusaha Indonesia juga harus menghadapi persaingan yang sangat ketat dengan Negara pengekspor di Asia seperti China, Taiwan, Korea Selatan, Singapura, Philipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.


V. Beberapa petunjuk memasuki pasar Jepang


Menurut sejumlah pengusaha Jepang dan dari hasil studi kami selama ini, ada beberapa kiat yang perlu diketahui oleh pengusaha eksportir Indonesia khususnya dari kelompok UKM dalam memasuki pasar Jepang, antara lain sebagai berikut :

A. Pola Permintaan :

Permintaan satu produk umumnya dalam jumlah relatif kecil namun jenis produknya yang diminta cukup banyak. Misalnya permintaan untuk furniture dari rotan, pihak importer Jepang akan memesan kursi sofa dari rotan misalnya 5 kontainer, namun masing-masing kontainer jenis/modelnya akan relatif berbeda.

Produk yang diminta harus sesuai dengan contoh yang disepakati dan apabila contoh yang disepakati berbeda dengan barang yang diterima, pengusaha Jepang akan kecewa dan biasanya kekecewaan dimaksud memerlukan waktu untuk terobati.

B. Selera Konsumen

Konsumen Jepang sangat memperhatikan kualitas produk termasuk untuk hal-hal yang kecil, misalnya pakaian disamping dilihat model, bahan, ukuran, warna, cara mencuci/seterika, kualitas jahitan juga akan diperhatikan hal-hal kecil seperti tidak ada sisa-sisa benang yang nampak.

Harga adalah faktor yang menentukan atau dengan kata lain daya saing produk harus tinggi. Konsumen Jepang sangat memperhatikan segi fashion dan selalu mencari sesuatu yang baru.

C. Sistem Pengangkutan/Delivery

Jadwal pengiriman harus tepat waktu. Bila terjadi keterlambatan, maka kontrak yang terjadi dapat dibatalkan atau pihak eksportir membayar denda. Di Jepang, jadwal pengiriman diatur sedemikian rapi karena berpengaruh pada empat musim (dingin, semi, panas dan gugur).

Apabila terjadi kerusakan setelah barang tiba di gudang importir, segera mengakui kesalahan itu dan menggantinya. Semua ini perlu dilakukan agar tetap memperoleh kepercayaan demi kepentingan bisnis jangka panjang.

D. Sistim Distribusi

Importir-Wholesaler-Retailer-Konsumen Misalnya untuk komoditi plywood, kertas dan lain-lain

Importir- Retailer-Konsumen (Supermarket, Department Store, dan lain-lain). Misalnya untuk produk bahan makanan, pakaian dan lain-lain

Importir -Konsumen (mail-order). Misalnya untuk produk-produk alat olah raga, kesehatan dan lain-lain. Untuk beberapa komoditi dan umumnya komoditi pertanian seperti kopi, karet, cokelat dan komoditi lainnya termasuk plywood, yang melakukan kegiatan impor adalah kelompok pengusaha besar Jepang atau yang dikenal dengan "Sogho Sosha". Merekalah yang mendistribusikan komoditi yang diimpor kepada wholesaler. Sementara produk-produk manufaktur umumnya dilakukan oleh importir umum.

E. Budaya Bisnis di Jepang


Bangsa Jepang bangga melestarikan budayanya dan hal itu terwujud pula dalam budaya bisnis, misalnya menghargai senioritas, artinya mereka lebih menghargai apabila negosiasi bisnis dengasn manajer atau pimpinan perusahaan yang senior.

Pengusaha Jepang memerlukan waktu dalam mengambil keputusan dalam bisnis terutama terhadap mitra yang baru dan apabila telah terjadi kontrak, biasanya kontrak dagang akan terus berlanjut atau langgeng. Dengan kata lain, pengusaha Indonesia harus ulet dan sabar dalam melakukan negosiasi bisnis dengan pengusaha Jepang.

Referensi dari pengusaha Jepang yang telah dikenal merupakan modal untuk mendapatkan mitra bisnis lainnya di Jepang.

F. Sistim Promosi


Para pesaing Indonesia seperti China, Vietnam, Thailand, Malaysia dan beberapa negara lainnya aktif mempromosikan produk-produknya dengan mengirim langsung catalog dan contoh produk kepada para importer di Jepang disamping itu mereka aktif pula mengikuti pameran-pameran dagang di Jepang. Bagi pengusaha Indonesia sistem ini belum banyak dilakukan. Untuk itu beberapa hal yang perlu dilakukan pengusaha Indonesia berkaitan dengan kegiatan promosi sebagai berikut :

Para pengusaha Indonesia khususnya pengusaha UKM agar menghubungi BPEN Depperindag (alamat lihat lampiran) dan Kantor Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan di daerah. Beberapa kegiatan pameran di luar negeri bisanya mendapatkan subsidi dari dana daerah walaupun tidak besar namun dapat meringankan beban pengusaha di sektor UKM.

Para pengusaha Indonesia harus berani mengeluarkan biaya untuk membuat sekaligus mengirim katalog dan contoh produk kepada para importer terkait di Jepang (Informasi mengenai para importer dan informasi yang diperlukan lainnya dapat menghubungi KBRI Tokyo cq. Bidang Perindustrian dan Perdagangan, alamat lihat lampiran).

Akan lebih efektif apabila leaflet atau katalog dengan penampilan yang menarik dibuat dalam bahasa Jepang. Untuk membuat katalog dalam bahasa Jepang, saat ini relatif mudah di sejumlah percetakan di Indonesia.

G. Sistim Komunikasi


Apabila eksportir Indonesia berkunjung ke Jepang, diharuskan membawa kartu nama secukupnya. Satu diantara kebiasaan pengusaha Jepang disaat awal perkenalan, saling memberikan kartu nama.

Para pengusaha Jepang akan lebih menghargai apabila menggunakan bahasa mereka, untuk itu diusahakan sedikit mengerti bahasa Jepang (Beberapa kalimat bahasa perkenalan, dapat dilihat dalam lampiran).

Apabila ingin berkomunikasi guna memperkenalkan produk anda melalui surat, faksimili atau E-mail, hendaknya ditujukan langsung ke divisi atau bagian yang sesuai. Hindari menulis nama perusahaan dan alamat saja. Contohnya : Attention/Product Import Manager.

Usahakan untuk merespon secepatnya setiap permintaan hubungan bisnis dengan bahasa Inggris yang baik dan apabila memungkinkan dengan bahasa Jepang. Pengusaha Indonesia dianjurkan untuk menunggu jawaban mereka dan hindari meminta jawaban secepatnya, kecuali sudah terlalu lama tidak ada tanggapan dari pihak buyer.

VI. Penutup

Demikianlah sedikit ulasan mengenai potensi pasar Jepang, apabila pengusaha kecil/menengah kita memanfaatkan pasar Jepang secara optimal, akan mampu memberikan kemudahan bagi para pengusaha Kecil/Menengah untuk melakukan ekspor ke semua negara di dunia. Disamping itu, akan mampu memberikan kontribusi bagi percepatan kebangkitan ekonomi Indonesia. Semoga bermanfaat, Insya Allah.



Website tempat belajar berbagai hal tentang Koperasi dan UMKM(Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Mulailah menjadi wirausaha muda mandiri !!